Kamis, November 19, 2009

VIDEO MESRA ANTASARI DAN RANI JULIANI

HOTEL Grand Mahakam menjadi saksi bisu pemicu perseteruan antara Ketua KPK (Nonaktif) Antasari Azhar dan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran (PRB) (alm) Nasrudin Zulkarnaen. Di kamar 808, Antasari pernah kepergok sedang bermesraan dengan Rani Juliani, istri ketiga Nasrudin. Kamar 808, adalah kamar eksekutif dan tak semua orang bisa menyewanya. Sumber Persda Network menjelaskan, Antasari check in di kamar tersebut, melalui pengusaha Sigid Haryo Wibisono yang kini juga berstatus tersangka. Sigid meminjamkan kamar ini kepada Antasari. Sebab, bila Antasari melewati jalur biasa, maka akan dengan mudah terlihat oleh banyak orang. "Kalau lewat jalur biasa, Pak Antasari bawa perempuan yang bukan istrinya, kan bisa bahaya," kata sumber tersebut. Namun, entah karena memang sudah membuntuti Rani atau memang sudah "menyetting" kisah perselingkuhan itu, Nasrudin langsung dengan mudah bisa menangkap basah Antasari dan Rani di kamar itu. Antasari pun tidak berdaya dan tidak bisa berbuat banyak.
Sumber tersebut menjelaskan, peristiwa kepergoknya Antasari-Juliani terjadi sekitar Mei 2008. Persis lima bulan setelah Antasari dilantik menjadi Ketua KPK.
"Nasrudin masuk ke kamar tersebut dengan berpura-pura sebagai room service," katanya. Begitu pintu terbuka, Nasrudin langsung menyerbu ke dalam untuk memastikan istrinya berada di kamar tersebut.
Mendapati Rani di kamar tersebut, Nasrudin ngamuk. Perang mulut antara Antasari dan Nasrudin pun tak terelakkan. "Iya, terjadi pertengkaran hebat di kamar 808 tersebut," jelas sumber lain kepada Persda.
Ponsel milik Rani yang dulunya berprofesi sebagai caddy golf pun diambil Nasrudin. Di dalam ponsel tersebut, Nasrudin juga menemukan bukti perbuatan mesum mereka. "Ada foto dan video mesra Antasari dan Rani," terang sumber tersebut. .
Bermodalkan bukti itu, Nasrudin pun mulai melakukan aksinya. Nasrudin meminta kepada Antasari untuk menyediakan dana Rp 1,2 miliar. Jika tidak, maka foto mesra Antasari dan Rani akan dipublikasikan.
Nasrudin yang juga pelaporkan kasus dugaan korupsi di PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) dan mendesak agar Antasari menetapkan pimpinan PT RNI menjadi tersangka. Namun permintaan Nasrudin tak kunjung dipenuhi. Nasrudin pun terus menerus meneror dan mengancam akan mempublikasikan foto tersebut.
Akhirnya, Antasari pun curhat kepada Sigid Haryo Wibisono. Intinya, Nasrudin harus dihabisi, karena terus melakukan teror kepada Antasari dan keluarganya. Karena berteman dekat, Sigid pun menindaklanjuti curhat Antasari itu.
Sigid kemudian meminta bantuan seorang berpolisi berpangkat kombes (kolonel) bernama Wiliardi Wizar. Lewat Jerry, orang dekat seorang konglomerat top, mantan Kapolres Jakarta Selatan itu pun kemudian mengorder pembunuhan terhadap Nasrudin 14 Maret 2009.
Mengenai keberadaan kamar 808 Grand Mahakam ini, belum didapatkan konfirmasi dari pengelola hotel berbintang itu. Petugas keamanan melarang wartawan masuk. "Mohon maaf, humas sedang tidak bisa ditemui," kata petugas keamanan itu.
Dalam jumpa pers pada hari Minggu (3/5), Antasari membantah isu perselingkuhan ini. Dia juga membantah terlibat dalam pembunuhan terhadap Nasrudin.
Namun, polisi berpendapat lain. Antasari malah sudah ditetapkan sebagai tersangka. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga mencopotnya sebagai Ketua KPK. Terakhir, Antasari mendekam di sel narkoba Polda Metro Jaya. (persda network/yls) Sumber : Tribun-Timur

Minggu, Juli 19, 2009

Mega Pertanyakan Maksud SBY Soal Pengganggu Pilpres

Jumat, 17/07/2009 17:24 WIB
Taufiqqurahman - detikNews
Jakarta - Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri mempertanyakan maksud SBY yang mengaitkan kasus Bom JW Marriott dan Ritz Carlton dengan Pilpres 2009. Jika memang sudah tahu pelakunya, Mega mempertanyakan sikap SBY yang tidak langsung menangkap, tetapi justru berwacana di media. "Saya juga mempertanyakan hal itu. Kalau sudah jelas, kenapa tidak ditangkap," kata Mega dalam jumpa pers di Kediamannya Jl Teuku Umar, Menteng, Jakarta, Jumat (17/7/2009).Mega berharap SBY tidak buru-buru mengaitkan soal bom ini dengan pilpres tanpa bukti yang kuat. "Itulah makanya, kalau masalah pemilu, jangan dikaitkan dengan terjadinya pengeboman di dua tempat tersebut," pinta Mega. Mega juga meminta ketegasan SBY dalam menindak pelaku pengeboman. Jika memang sudah mengantongi bukti awal dan nama pelaku, SBY diminta langsung menangkap."Kalau memang sudah tahu, tolong saja, saya minta diungkap siapa mereka. Kalau menurut saya, saya seorang pemimpin itu harus bisa," pungkasnya.(yid/asy)

Mega Minta Pemerintah Tidak Politisir Masalah

Jumat, 17/07/2009 17:12
Muhammad Taufiqqurahman - detikNews

Jakarta - Pidato Presiden SBY soal kemungkinan terjadinya hubungan antara Pilpres dan peledakan bom di Ritz Carlton dan JW Marriott dipertanyakan. Hal tersebut dinilai upaya untuk mempolitisir masalah."Meminta pemerintah tidak mempolitisir masalah dan memperkeruh suasana dengan mengaitkan peristiwa tersebut dengan Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden yang baru saja berlangsung," kata Capres Megawati saat jumpa pers di kediamannya, Jl Teuku Umar, Jakarta Pusat, Jumat (17/7/2009).Menurut Mega, pernyataan tersebut tidak sesuai dalam kondisi saat ini. Seharusnya, seluruh masyarakat bersatu melawan terorisme dan kejahatan kemanusiaan.Mega juga mengutuk keras pengeboman ini. Bersama Prabowo, ia juga ikut berbelasungkawa atas meninggalnya korban yang tidak berdosa."Kami juga meminta pada pemerintah untuk mengungkap siapa pelaku peristiwa tersebut," tegasnya.(mad/iy)

Prabowo: Berpikir Pun Tidak untuk Lakukan Tindakan Biadab

Jumat, 17/07/2009 19:25 WIB
Moksa Hutasoit - detikNews
Jakarta - Cawapres Prabowo Subiyanto membantah tuduhan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang menuding kemungkinan ada motif politik dalam insiden bom di Hotel Ritz Carlton dan JW Marriott. Prabowo mengatakan, berpikir pun tidak untuk melakukan tindakan biadap seperti pengeboman."Tidak ada dari kubu Mega-prabowo dan JK-Wiranto, berpikir pun tidak untuk mengungkapkan kekecewaan melalui kegiatan biadab," kata Prabowo di Sekretariat Pemenangan Mega-Prabowo, Jl Cik Di Tiro, Jakarta, Jumat (17/7/2009).Prabowo menyayangkan komentar SBY. Menurutnya, seharusnya di tengah kondisi bangsa yang berduka akibat ulah teroris, harusnya kata-kata sejuk yang dikeluarkan, bukannya malah tuduhan."Kita harap ada kesejukan. Yang jelas kalau ada yang soelah-olah ada pihak yang kecewa, saya kira banyak yang kecewa," kata Prabowo."Apalagi seadainya dianggap ada pihak-pihak yang seolah-olah karena rasa kecewa dengan pilpres, malah ikut perkeruh suasana. Mari kita mempersejuk, bukan malah memperkeruh," pungkas Prabowo. (anw/ndr)

Fuad Bawazier: SBY Ngawur!

Sabtu, 18/07/2009 15:34 WIB
Jakarta - Isi jumpa pers Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam menyikapi kasus bom JW Marriott-Ritz Carlton menuai kontroversi. Ada yang menilai SBY tidak pantas mengaitkan bom dengan kondisi perpolitikan Tanah Air."Ini malah nakut-nakutin orang. Bilang saya juga akan dibunuh terkait pilpres lagi dan sebagainya. Itu ngawur," kata Ketua Timses JK-Wiranto, Fuad Bawazier, usai menjenguk istrinya yang dirawat di RS MMC, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Sabtu (18/7/2009).Menurut Bawazier, sikap SBY sebagai presiden tidak proporsional. Seharusnya SBY cukup mengatakan seputar pengusutan kasus pengeboman tersebut."Seharusnya dia cukup bilang dia akan menyeret pelakunya. Cukup itu aja," tandasnya.Dalam jumpa persnya, SBY mensinyalir ada yang berusaha mengacaukan pemilu dan mencegah dirinya memegang kembali tampuk kepresidenan. Bahkan SBY sempat menunjukkan beberapa foto pelatihan militer ilegal yang mengancam keamanan dirinya.(ape/gah)

SBY Minta Polisi Teliti Kaitan Bom dengan Ancaman-ancaman Politik

Jumat, 17/07/2009 15:14 WIB
Jakarta - Presiden SBY mengaku mendapat ancaman-ancaman terkait Pilpres 2009. Bahkan, ada ancaman agar SBY tidak dilantik. Karena itu SBY meminta kepada aparat Polri dan lembaga-lembaga penegakan hukum untuk meneliti apakah bom di Marriott dan Ritz Carlton itu terkait dengan hal itu atau tidak. "Terhadap semua (data) intelijen itu, apakah terkait dengan bom hari ini atau tidak, saya menginstruksikan pada jajaran penegak hukum menjalankan hukum dengan benar, objektif, tegas dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum," tegas SBY dengan wajah serius dalam jumpa pers di Istana Presiden, Jumat (17/7/2009). Ancaman-ancaman yang disampaikan SBY, antara lain: foto kepalanya dijadikan sasaran tembak oleh kelompok teroris yang sedang berlatih menembak, ada ancaman revolusi bila SBY menang, ada ancaman agar SBY tidak dilantik sebagai presiden, dan ada ancaman menjadikan Indonesia seperti Iran. Andaikata, lanjut SBY, bom hari ini tidak terkait ancaman-ancaman itu, harus tetap dicegah dan dihentikan. "Karena ini anarkis, tindak kekerasan, tindakan melawan hukum, bukan karakter demokrasi, dan bukan karakter negara hukum," tegas SBY.SBY Mengutuk dan Prihatin"Sangat jelas atas semua ini, saya selaku kepala negara dan kepala pemerintahan mengutuk keras aksi teror yang keji ini, saya juga sangat-sangat prihatin dengan kejadian ini. Barangkali, biasanya, keadaan seperti ini, di atara kita kurang berani menyatakan kutukan dan kecamannya, karena politik. Saya dengan bahasa perang mengemukakan seperti itu," sambung SBY.SBY juga menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas ledakan bom itu. "Mengapa saya prihatin? Saudara tahu lima tahun terakhir, ekonomi kita baik, dunia usaha membaik, swasembada pangan, sektor riil semua bergerak, meski kita menghadapi krisis-krisis globa yang datang silih berganti," kata dia. "Seminggu terakhir, nilai saham menguat, rupiah menguat, ekonomi tumbuh, dilaksanakan program-program penanggulangan kemiskinan, pengangguran, program pro rakyat. Semua terjadi, karena tahun-tahun terakhir negara kita benar-benar aman dan damai, sehingga di samping ekonomi tumbuh, menjalani kehidupan dengan tenang dan bebas dari ketakutan," ujar dia.SBY juga menyampaikan bahwa citra Indonesia di mata dunia membaik lima tahun terakhir. "Citra kita di mata dunia, tahun-tahun terakhir meningkat, karena dunia menilai negara makin aman dan damai, demokrasi di negara kita makin mekar, penghormatan terhadap HAM juga baik," kata dia.(asy/iy)

SBY: Saya Bersumpah Tindak Tegas Pelaku Bom, Otak dan Penggeraknya

Luhur Hertanto - detikNews
Jumat, 17/07/2009 15:36 WIB
Jakarta - Presiden SBY mengutuk keras peledakan bom di Hotel JW Marriott dan The Ritz Carlton Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Dia juga prihatin. Karena itu, SBY bersumpah untuk menindak tegas pelaku peledakan bom, termasuk otak dan penggeraknya. "Saya bersumpah, demi masyarakat Indonesia yang saya cintai, negara dan pemerintah akan melakukan tindakan tegas, tepat, dan benar terhadap pelaku pemboman, otak dan penggeraknya, dan atau kejahatan-kejahatan lainnya," kata SBY dalam jumpa pers di Istana Presiden, Jakarta, Jumat (17/7/2009). SBY meminta kepada Polri, TNI, dan BIN, serta para kepala daerah lebih waspada. "Kepada POlri, TNI, BIN, dan termasuk gubernur dan bupati/walikota, saya minta waspada mencegah aksi teror. Penegak hukum harus bisa mencari, menangkap dan mengadili para pelaku, penggerak dan otak di belakang aksi kekerasan ini," tegas dia.Di depan wartawan, SBY juga menyampaikan bahwa Polri telah mencegah dan menggalakkan pemberantasan terorisme. "Saya tahu lima tahun imi, Polri mencegah dan menggagalkan aksi teroris ini, menemukan bahan peledak yang siap diledakkan, membongkar jaringannya, meski lolos hari ini," ucap SBY. "Terjadi musibah yang merobek keamanan dan nama baik bangsa kita. Agar tugas untuk mencegah dan memberantas terorisme ini serta kejahatan-kejahatan dilakukan dengan baik, intelijen harus benar-benar tajam. Pencegahan harus benar-benar efektif. BIN dan Polri harus bersinergi. Sikap lengah harus dibuang. Ini amanah kita terhadap negara," sambung dia.(asy/iy)