4 Bentuk dukungan terhadap Kopassus
Aksi 11 anggota Grup 2 Kopassus, Karangmenjangan menyerang
lapas Cebongan, Sleman, Yogyakarta dan membunuh 4 narapidana titipan polisi
menuia kontroversi. Sikap masyarakat terbelah menyikapi aksi pasukan elit TNI
AD itu.
Sebagian masyarakat mengecam, namun tak sedikit pula justru mendukung. Bagi
para pendukung, penyerangan lapas dianggap sebagai aksi pembersihan premanisme.
Sebab itu mereka meminta anggota Kopassus tidak dihukum.
Seperti gerakan 'Satu Miliar dukungan untuk 11 anggota Kopassus' di Facebook.
Admin fans page mengaku membuat gerakan untuk memberikan dukungan kepada para
pelaku penyerangan agar tidak dihukum.
"Yuk ramai-ramai dukung 11 Kopassus pembersih Sampah masyarakat di LAPAS
CEBONGAN agar tidak dipidanakan tapi diberi penghargaan. Like dan sebarkan
ya!!" tulis Admin.
Selain lewat Facebook, dukungan juga muncul lewat spanduk, aksi unjuk rasa, dan
lewat pesan pendek (SMS). Berikut ini empat dukungan terhadap aksi Kopassus:
4 Bentuk dukungan terhadap Kopassus
Reporter : Mohamad Taufik
Senin, 8 April 2013 11:10:33
1. Satu miliar dukungan untuk 11 Kopassus di Facebook
Sebelum pelaku penembakan Lapas Cebongan terungkap, muncul akun bernama
Idjon Djanbi di Facebook. Dia membela Kopassus dan menuding polisi menjadi
pelaku penyerangan lapas yang mengakibatkan empat tahanan tewas.
Namun setelah terbukti Kopassus terlibat dengan menyeret 11 anggota Grup 2
Kopassus Karangmenjangan, kini muncul gerakan 'Satu Miliar dukungan untuk 11
anggota Kopassus' di Facebook.
Admin fans page mengaku membuat gerakan ini untuk memberikan dukungan pada 11
anggota Kopassus itu agar tidak dihukum.
"Yuk ramai-ramai dukung 11 Kopassus pembersih Sampah masyarakat di LAPAS CEBONGAN
agar tidak dipidanakan tapi diberi penghargaan. Like dan sebarkan ya!!"
tulis Admin.
Fans page ini dibuat Kamis (4/4) lalu, setelah ketua tim investigasi Mabes TNI
merilis pelaku penyerangan adalah 11 anggota Kopassus.
Hingga kini sudah ada 23.244 orang yang mendukung gerakan ini. Kebanyakan
mereka menuliskan dukungan karena aksi Kopassus tersebut dianggap telah
menghabisi preman.
"Hidup kopasus berantas premanisme. Sekalian berantas yang bersembunyi di
balik Hak Asasi Manusia (HAM) itu. Memangnya preman kenal HAM. TNI terus jaya,
jangan mundur dengan gertakan HAM," tulis salah seorang pendukung bernama
Wayono.
Lalu ada juga Wahyudi yang menulis. "Hanya Kopassus yang bisa berantas
premanisme." Sementara itu Semar menulis "Kopassus emang tiada duanya.
Teruskan perjuangan brantas premanisme."
Belum diketahui siapa di balik dukungan ini.
2. Dukungan spanduk untuk Kopassus di Solo
Beberapa spanduk dukungan terhadap Kopassus juga muncul di Kota Solo, Jawa
Tengah. Misalnya di perempatan Jalan Gendengan, Purwosari serta di area
perempatan Gladag.
Ormas Mega Bintang Solo misalnya, memasang spanduk berisi dukungan kepada
TNI/Polri memberantas premanisme di Indonesia, di perempatan Gendengan
Purwosari. Spanduk atas nama Mega Bintang tersebut bertuliskan "Dukung
TNI/Polri Brantas Premanisme".
Tokoh ormas Mega Bintang, Mudrick M Sangidoe, mengaku memasang spanduk tersebut
Sabtu (30/3) lalu. Tujuanya untuk mengajak masyarakat bersama-sama memberantas
premanisme yang meresahkan.
Tepat di bawahnya, terpasang juga spanduk lain yang bertuliskan "Kami
Bangga dan Salut pada Jiwa Ksatria Prajurit Kopassus".
Namun pada spanduk berwarna dasar merah muda dengan tulisan hitam tersebut
tak tertulis logo ormas atau dari kelompok tertentu yang memasang spanduk.
Namun Mudrick mengaku tidak tahu."Itu bukan milik Mega Bintang. Tapi
saya mendukung dan setuju dengan spanduk itu," katanya
3. Demo warga Yogya mendukung Kopassus
Minggu (7/4) kemarin, di Yogyakarta ada ratusan orang menggelar unjuk rasa
mendukung Kopassus. Aksi mereka untuk menolak pelbagai aksi premanisme. Aksi
mendukung pemberantasan premanisme ini digelar di perempatan Tugu Yogyakarta.
Warga melakukan orasi kemudian mereka ramai-ramai mengumpulkan koin untuk
anggota Kopassus Serka Heru Santosa dan Sertu Sriyono. Koin yang terkumpul
nantinya akan diserahkan kepada keluarga korban. Mereka juga menggelar doa
untuk dua anggota Kopassus yang meninggal.
Selain itu, mereka juga menggelar aksi long march dari perempatan Tugu menuju
patung Jenderal Sudirman di halaman DPRD DIY. Warga Yogya yang mengikuti aksi
ini menginginkan Yogyakarta bebas dari segala bentuk premanisme.
Mereka mendukung segala upaya dalam memberantas premanisme karena aksi-aksi
premanisme telah meresahkan semua warga. Aksi long march tersebut membawa serta
foto Sertu Heru Santosa dan membentangkan bendera Merah Putih berukuran besar.
Warga juga membentangkan berbagai spanduk yang antara lain
bertuliskan,”Rakyat-TNI Bersatu Berantas Preman dan Preman Berkedok Agama,”
“Terimakasih Kopassus, Yogya Aman Preman Meninggal,” “Preman Itu Pengecut Yang
Tak Berperasaan,” dan lain-lain.
4. Dukungan SMS terhadap Kopassus beredar
Selain dukungan lewat Facebook, sepanduk, dan aksi unjuk rasa, dukungan
terhadap Kopassus juga menyebar lewat pesan pendek (SMS) dan BlackBerry
Messenger (BBM) setelah pengumuman Tim investigasi TNI AD beberapa waktu lalu.
Berikut kutipan lengkap BBM berantai yang beredar di masyarakat:
"PESAN KORSA" Kami menyatakan: rasa BANGGA dan HORMAT serta Siap
memimpin GERAKAN JIWA KORSA untuk menjaga keutuhan MORIL PRAJURIT TNI (AD).
Apapun? yang terjadi yang? dilakukan oleh adik adik kita di Kartosuro bagi saya
mereka adalah Pahlawan Pemberani dan ini adalah ASET POTENSI kemampuan Prajurit
terlatih untuk membunuh bukan untuk dibunuh. Biarkan dunia tahu dan itu ada
efek Jera bagi mereka yang arogan serta mendholimi TNI.
Jangan melihat apa yang dilakukan tetapi mari kita lihat kepada siapa mereka
melakukan. Empat pelaku pengeroyokan yang menewaskan satu orang aggota KPS itu
adalah Penjahat yang dipelihara dan kepergok? takut modus sindikat kejahatannya
terbongkar.
Para pemimpin TNI tidak perlu takut kebakaran jenggot tidak perlu bicara citra
TNI, tetapi semua dan terbelenggu dalam ketakutan. Hukum Rimba terkadang sangat
dibutuhkan ketika Hukum Tinta sudah menjadi ladang orang.
Jadi bagi saya Reaksi Prajurit? adalah Prestasi dan Potensi Kemampuan Skil
Prajurit (RAIDS) perlu dikembangkan serta disiapkan ketika diperlukan oleh
Negara bukan malah dibinasakan. Malam ini juga Hitungan detik? Pesan Amanat ini
hrs sampai ke 1.000 Prajurit. Terimakasih Salam Korsa buat Pahlawanku disana. !
KOMANDO...!!.